MADIUN, 4 Juni 2026 – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP / Disperta) Kota Madiun menggelar Focus Group Discussion (FGD) krusial terkait Penyampaian Hasil Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) Tahun 2025. Acara yang dibuka langsung oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Madiun, Jemakir, S.P., mengusung tema “Mengupas Data, Memetakan Kondisi Ketahanan Pangan Kota Madiun”. Forum ini menjadi momentum penting lintas sektoral untuk menyelaraskan kebijakan berbasis data (data-driven policy) demi memperkuat kedaulatan pangan di wilayah perkotaan.

Meskipun secara umum agregat Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Kota Madiun tahun 2025 berada pada kategori Sangat Tahan Pangan (Prioritas 6) dengan skor komposit 77,65, posisi Kota Madiun rupanya masih berada di bawah tetangganya, Kabupaten Magetan, yang menembus skor 78,46. Angka ini memicu Disperta Kota Madiun untuk bergerak cepat menyusun strategi taktis guna mengejar ketertinggalan tersebut sekaligus mengintervensi indikator-indikator makro yang masih memerah.

Membedah Akar Masalah: Mengapa IKP Kota Madiun Berada di Bawah Magetan?

Dalam paparan yang disampaikan oleh Narasumber Utama, Prasojo Bayu Suwondo Putro, S.Pi, M.AP, M.Agr.Sc, Ph.D (Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur), terungkap bahwa dengan diterapkannya metode baru perhitungan FSVA 2025, peta kerentanan pangan bergeser secara spesifik pada level kelurahan.

Berdasarkan data komposit metode baru, tantangan terbesar Kota Madiun berakar pada aspek Ketersediaan Pangan, khususnya pada indikator Rasio Konsumsi Normatif per Kapita terhadap Ketersediaan Bersih atau Normative Consumption to Availability Ratio (NCPR).

Sebagai wilayah perkotaan, Kota Madiun memiliki keterbatasan geografis yang sangat kontras jika dibandingkan dengan Kabupaten Magetan:

  1. Keterbatasan Luas Lahan: Luas wilayah Kota Madiun hanya berkisar 36,13 km², berbanding terbalik dengan Magetan yang memiliki lahan pertanian dan hortikultura luas di lereng Gunung Lawu.
  2. Ketergantungan Pasokan Luar Daerah: Terbatasnya produksi komoditas karbohidrat pangan pokok di dalam kota menyebabkan tingginya angka konsumsi normatif tidak seimbang dengan ketersediaan bersih yang diproduksi secara mandiri di internal wilayah. Hal inilah yang menahan laju skor komposit IKP Kota Madiun sehingga berada di bawah Magetan.

Strategi Taktis Mengejar Ketertinggalan IKP Kota Madiun

Guna mengejar ketertinggalan skor IKP tersebut, Kepala Disperta Kota Madiun menekankan pentingnya sinergi data dan program intervensi yang presisi di tingkat kelurahan. Beberapa langkah strategis yang dikunci dalam dokumen perencanaan daerah bersama Bapperida dan instansi terkait meliputi:

  • Penyusunan Regulasi Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD): Mengalokasikan anggaran khusus untuk mengadakan stok CPPD minimal sebesar 17,17 ton beras sesuai amanat Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 3 Tahun 2025 guna mendongkrak indikator Food Reserves yang saat ini dinilai masih rendah.
  • Penguatan Arus Distribusi dan Stabilitas Pasar: Menggandeng Dinas Perdagangan serta Perekokesra selaku motor TPID untuk melakukan operasi pasar murah mandiri di kelurahan yang memiliki indeks rentan, seperti Kuncen, Nambangan Lor, dan Nambangan Kidul yang berada di peringkat bawah komposit kelurahan.
  • Edukasi Gizi dan Pola Pangan Harapan (PPH): Meningkatkan skor PPH konsumsi melalui kampanye masif diversifikasi pangan lokal dan pemenuhan protein hewani berbasis formula “Isi Piringku” dan gerakan “Gemarikan”.

Pilot Project Revolusioner: Dongkrak NSCR Karbohidrat via Vertical Urban Farming

Titik fokus paling menarik dari hasil FGD hari ini adalah langkah konkret Disperta dalam menjawab tantangan rendahnya NSCR (Nutrient Source to Consumption Ratio) karbohidrat akibat minimnya lahan. Disperta Kota Madiun resmi meluncurkan Pilot Project penanaman Ubi Jalar Ungu dan Ubi Jalar Cilembu memanfaatkan metode Vertical Polybag, Plantbag, dan Karung.

Mengapa Memilih Ubi Jalar Ungu & Cilembu?

Ubi jalar dipilih karena merupakan sumber karbohidrat non-beras berkualitas tinggi yang kaya akan vitamin, serat, serta antioksidan (terutama jenis ubi ungu). Dari segi budidaya, komoditas ini memiliki ketahanan pangan yang sangat adaptif terhadap cuaca perkotaan dan tidak membutuhkan suplai air yang berlebih seperti padi.

Solusi Keterbatasan Lahan dengan Sistem Vertikal

Dengan keterbatasan wilayah Kota Madiun, mustahil mengandalkan persawahan horizontal konvensional. Penerapan media vertical polybag, plantbag, dan pemanfaatan karung memberikan sejumlah keunggulan tak tertandingi:

  • Efisiensi Ruang Berlipat Ganda: Memanfaatkan ruang vertikal (rak berundak atau vertikultur) di pekarangan rumah, gang-gang sempit perkotaan, hingga kawasan perumahan padat penduduk.
  • Optimalisasi Hasil per Meter Persegi: Produktivitas karbohidrat lokal dapat digenjot secara maksimal tanpa memerlukan pembukaan lahan baru.
  • Kemudahan Perawatan & Pengendalian Hama: Penanaman di dalam plantbag atau karung memudahkan pengontrolan nutrisi tanah, minimalisasi gulma, dan portabilitas tinggi.

Pilot project ini ditargetkan menyasar seluruh kelurahan di Kota Madiun, khususnya kelurahan yang mencatatkan rasio NCPR rendah pada peta FSVA metode baru. Melalui gerakan integratif ini, masyarakat kota tidak hanya diposisikan sebagai konsumen pasif, melainkan beralih menjadi produsen pangan mandiri aktif (urban agro-producers).

Kesimpulan: Mewujudkan Madiun Tahan Pangan, Warga Sehat, Kota Kuat

“Ketahanan pangan adalah kunci kemandirian keluarga dan kekuatan kota,” tegas Jemakir dalam sambutannya. Melalui validasi data FSVA 2025 hari ini, Disperta Kota Madiun optimistis bahwa inovasi teknologi pertanian perkotaan seperti budidaya ubi jalar vertikal dan penguatan regulasi cadangan pangan akan mampu mendongkrak IKP Kota Madiun melewati performa wilayah sekitar.

Aksi nyata ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah halangan besar, melainkan sebuah ruang bagi kreativitas teknologi pertanian untuk tumbuh subur demi mewujudkan Kota Madiun yang mandiri pangan, sehat, dan sejahtera.

Diterbitkan oleh Tim Publikasi Web Blog Resmi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Madiun.

Sumber Data: Materi Focus Group Discussion (FGD) FSVA Kota Madiun, Juni 2026.

https://bit.ly/3S3pm3D?r=qr

By admin